Haid Pun Menjadi Satu Pilihan…
kompas.co.id
Ketika pilihan meneruskan atau menghentikan kehamilan masih menjadi tarik ulur antara kelompok pro-live dan justru diberi satu lagi kebebasan untuk memilih, kemajuan teknologi telah memungkinkan mereka menjadikan haid pun sebagai satu pilihan.
Fenomena ini telah lama muncul di Amerika Serikat (AS). Setidaknya dua survei nasional akhir-akhir ini menunjukkan satu dari lima wanita memilih menghentikan atau setidaknya mengatur sendiri siklus bulanan mereka. Pilihan itu dijelaskan secara gamblang oleh Dr Leslie Miller, ahli obstetrik dan ginekologi serta peneliti di Universitas Washington, Seattle, melalui situs web noperiod.com.
Menurut Dr Miller, wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal bukan berarti tidak memiliki siklus haid sama sekali, melainkan hanya terhindar sementara dari keharusan bleeding selama terbebas dari hormon progestin.
Hal senada dikemukakan oleh Asosiasi Kesehatan Reproduksi AS. Mereka mengatakan, dua pertiga perempuan merasa terganggu oleh datangnya hari "merah" tersebut. Sebagian dari mereka mengaku berada pada kondisi buruk, bahkan cenderung menjadi sangat "marah" dan mengalami gangguan emosional cukup tinggi.
Karena itu, separuh dari responden menegaskan sama sekali tidak ingin mengalami masa haid. Bagi beberapa orang, haid bisa menyebabkan sakit yang sangat menguras tenaga dan menciptakan problem lebih serius.
"Saya punya ribuan pasien gadis muda yang melakukan ini," ujar Dr Mindy Wiser-Estin, ahli ginekologi di Little Silver, New Jersey, AS, seperti dikutip kantor berita Associated Press (AP). "Tidak ada alasan kita perlu periode bulanan," lanjut dokter yang juga menolak periode bulanan itu.
Pengenalan kaum perempuan pada kemampuan menghindari haid muncul sekitar tahun 1960-an. Pada saat itu banyak wanita yang terpaksa menghindari haid, terutama ketika menghadapi momen penting seperti perkawinan, liburan, atau pertandingan olahraga. Para dokter perempuan dan perawat merupakan kelompok pertama yang memblokade periode menstruasi agar bisa bekerja sesuai jadwal.
"Mereka kemudian merasa nyaman untuk merekomendasikannya kepada para pasien," tutur Susan Wysocki, Ketua Asosiasi Nasional Perawat Kesehatan Perempuan. Menurut dia, para dokter dan perawat rata-rata menggunakan alat kontrasepsi berbentuk cincin vagina untuk mencegah haid.
Kenyataannya, penggunaan pil atau alat kontrasepsi untuk mencegah haid menjadi sangat populer di AS, terutama di kalangan remaja putri hingga para ibu menjelang menopause. Dua penelitian nasional terakhir menunjukkan, satu dari lima wanita menggunakan alat kontrasepsi oral untuk mencegah atau menghindarkan diri dari haid.
Masalah ini mengemuka dan penggunaannya pun melonjak setelah pabrik farmasi Barr mengeluarkan produk Seasonale, November 2003, sebuah pil yang sebenarnya dimaksudkan untuk mengatur kelahiran.
Tiga bulan sekali
Pil ini dikonsumsi selama 12 minggu sehingga memungkinkan seseorang mengalami haid hanya tiga bulan sekali, yang berarti hanya empat kali dalam setahun. Karena para dokter menerima baik produk ini, penjualan Seasonale melonjak 62 persen per tahun hingga mencapai total penjualan 110 juta dollar AS.
Penemuan ini membuat pemikiran pun berkembang. Jika setahun hanya empat kali dan tidak mengganggu, mengapa tidak dihilangkan saja sekaligus sehingga wanita sama sekali terbebas dari gangguan haid?
Namun, belum ada jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Bagaimanapun masih ada kaum wanita yang menganggap haid sebagai bagian hidup yang normal. Bahkan, sebagian dari mereka menganggap masa haid merupakan kesempatan bagi para gadis muda untuk belajar masalah kewanitaan dan kesuburan pada tahap awal. Sebuah tahap yang tidak hanya harus dipahami, tetapi juga harus dilalui hingga menuju kesempurnaan sebagai perempuan.
Harus hati-hati
Bahaya tidaknya sistem ini masih menjadi pembicaraan. Dalam arti, para ahli belum mencapai kesepakatan bulat jika dihadapkan pada pertanyaan mana yang lebih berbahaya, mencegah datangnya bulan atau kehamilan. Namun, sebagian besar dokter mengatakan, menekan ketat masa haid tidak berarti lebih berbahaya dibandingkan dengan penggunaan kontrasepsi atau pil pencegah kehamilan untuk masa yang sangat panjang.
Kenyataannya, sejak teknik perencanaan keluarga ini didengungkan hampir setengah abad lalu, hingga saat ini belum ditemukan masalah yang serius. Walau begitu, dokter lain menghendaki penelitian lebih lanjut, khususnya tentang penggunaan pil penekan haid untuk masa penggunaan panjang.
"Ini adalah salah satu hal terbaik yang pernah saya lakukan sepanjang hidup," kata Stephani Sardinha. Wanita berusia 22 tahun yang tinggal di Lisbon Falls, Maine, AS, ini mengaku tidak mengalami haid sejak umur 17 tahun. Pengenalan Sardinha pada pil pencegah haid itu pertama kali ia dapat dari tantenya, seorang perawat di rumah sakit.
Ketika menginjak remaja, Sardinha dikenalkan pada alat kontrasepsi berbentuk cincin yang bernama Nuvaring. Alat ini memungkinkannya mengatur haid sesuai keinginannya sendiri.
Setelah hormonnya terkumpul selama tiga minggu, Sardinha cepat-cepat mengambil alat kontrasepsi berbentuk cincin itu dan segera mengenakannya untuk mencegah haid. Dengan mengenakan alat ini, ia bebas mengatur kapan ia ingin memberi kesempatan untuk haid.
"Cara ini sangat bermanfaat dan sangat menguntungkan bagi kehidupan perkawinan saya, karena saya terhindar dari rasa sakit di masa haid dan meningkatkan gairah hidup saya bersama suami," katanya. "Saya tidak akan pernah meninggalkan cara ini dan kembali ke masa sebelumnya," tegas Sardinha.
Walau begitu, Dr Linda Gordon mengingatkan tetap perlu hati-hati. Profesor Universitas New York yang mengambil spesialisasi bidang sejarah perempuan dan sejarah seksualitas ini mengatakan, sikap hati-hati tetap diperlukan karena belum ada penelitian cukup tentang konsekuensi penggunaan hormon secara rutin.
Penulis buku The Moral Property of Women: A History of Birth Control Politics in America ini mengingatkan, orang berpikir bahwa obat-obat hormonal bagi wanita menopause sangat penting agar awet muda. Namun, penelitian terakhir membuktikan, obat-obat hormonal itu lebih membawa risiko ketimbang hasil yang diharapkan.
Pil-pil pencegah kehamilan yang ada sekarang ini, lanjutnya, memang tidak lagi banyak mengandung estrogen dan progestin seperti dua generasi sebelumnya. Tetapi, tetap masih membawa risiko seperti serangan jantung, stroke, atau pengentalan darah. Karena itu, ia menyarankan agar wanita penderita kanker, stroke, serangan jantung atau perokok di atas usia 35 tahun tidak mengonsumsi pil-pil hormonal tersebut. (AP/RIE)
wish u all dBEST n getFREZH